Wacana pemblokiran platform game daring populer, Roblox, kini kembali mengemuka di Indonesia. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pemerintah tidak akan ragu untuk mengambil langkah tegas ini jika platform tersebut terbukti memberikan dampak negatif bagi perilaku generasi muda.
Kekhawatiran ini menjadi perhatian utama pemerintah sepanjang tahun 2026, mengingat pesatnya perkembangan teknologi digital yang sulit dikontrol. Berdasarkan pantauan [Nama Domain], pemerintah kini lebih proaktif dalam menyaring konten digital demi menjaga moralitas dan karakter bangsa sejak usia dini.
Sikap Tegas Pemerintah Terhadap Konten Digital Negatif
Mensesneg Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa kemungkinan pemblokiran Roblox tetap terbuka lebar jika kontennya dinilai melampaui batas kewajaran. Hal ini ia sampaikan langsung di Istana Kepresidenan Jakarta, sebagai sinyal kuat bagi para penyedia platform digital untuk lebih bertanggung jawab atas konten yang mereka sajikan.
Pemerintah berkomitmen untuk terus meminimalkan paparan konten digital yang bermuatan negatif, mulai dari siaran televisi hingga permainan interaktif. Menurut Prasetyo, perlindungan terhadap anak-anak dari unsur kekerasan dan perilaku menyimpang adalah prioritas yang tidak bisa ditawar.
Koordinasi Lintas Kementerian untuk Evaluasi Konten
Dalam menangani isu ini, pihak Mensesneg telah berkoordinasi erat dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Berdasarkan data yang dihimpun [Nama Domain], Komdigi melakukan evaluasi menyeluruh setiap hari terhadap berbagai aplikasi, media sosial, dan platform game yang beredar di Indonesia.
Evaluasi harian ini bertujuan untuk mendeteksi unsur-unsur berbahaya seperti:
- Konten kekerasan dan tindakan kriminal.
- Muatan negatif yang tidak sesuai dengan norma lokal.
- Paparan perilaku buruk yang dapat ditiru oleh anak-anak.
Kekhawatiran Mendikdasmen Terhadap Dampak Game Daring

Bukan hanya dari sisi regulasi digital, kekhawatiran juga datang dari sektor pendidikan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, sempat melarang siswa secara langsung untuk bermain Roblox saat melakukan kunjungan ke SDN Cideng 02 Jakarta Pusat.
Menteri Mu’ti menekankan agar siswa tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar ponsel. Ia memperingatkan bahwa konten yang mengandung kekerasan atau kata-kata kasar dapat merusak perkembangan moral siswa, sehingga pengawasan ketat dari lingkungan sekolah dan rumah sangat diperlukan.
Belajar dari Langkah Pemblokiran di Turki
Indonesia bukan satu-satunya negara yang menaruh perhatian serius pada dampak platform ini. Pada Agustus 2024, pemerintah Turki telah mengambil langkah drastis dengan memblokir akses ke Roblox secara nasional. Keputusan tersebut dipicu oleh laporan serius mengenai adanya konten seksual yang mengeksploitasi anak-anak.
Beberapa isu utama yang ditemukan di Turki meliputi adanya pesta virtual yang mempromosikan pedofilia serta penyalahgunaan mata uang virtual (Robux) oleh akun-akun bot untuk menjebak pengguna anak-anak. Langkah tegas ini menjadi referensi bagi banyak negara dalam melihat risiko keamanan pada platform virtual yang berbasis pembuatan konten oleh pengguna (user-generated content).
Panduan Aman Bagi Orang Tua dalam Mengawasi Anak
Mengingat tantangan digital di tahun 2026 yang semakin kompleks, peran aktif orang tua menjadi benteng utama bagi keselamatan anak. Berikut adalah beberapa langkah praktis yang dapat diambil:
- Pahami Platform yang Dimainkan: Luangkan waktu untuk mengenali mekanisme game dan jenis interaksi yang terjadi di dalamnya.
- Gunakan Fitur Kontrol Orang Tua: Manfaatkan pengaturan batasan waktu layar (screen time) dan penyaringan konten otomatis pada perangkat.
- Edukasi Etika Digital: Ajarkan anak mengenai bahaya berinteraksi dengan orang asing dan cara melaporkan konten yang tidak pantas.
- Komunikasi Terbuka: Ciptakan suasana di mana anak merasa nyaman menceritakan pengalaman mereka saat bermain game daring.
Masa depan ruang digital Indonesia yang sehat bergantung pada sinergi antara kebijakan pemerintah yang tegas dan pengawasan keluarga yang konsisten. Pemblokiran mungkin merupakan opsi terakhir, namun perlindungan karakter anak tetap menjadi tujuan utama yang harus dicapai.
